Surakarta, Jawa Tengah – Dari seutas benang dan sebuah hakpen, Ny. Weny Arnita Sandy menemukan ruang untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus membangun kemandirian. Anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang L Kodim 0735/Surakarta ini menekuni seni merajut hingga melahirkan beragam karya yang tidak hanya indah, tetapi juga bernilai ekonomi.
Weny, istri Sertu Mujono yang merupakan anggota Koramil 02/Banjarsari Kodim 0735/Surakarta, bergabung dengan Persit pada 2006. Ketertarikannya pada dunia rajut bermula dari perubahan besar dalam hidupnya ketika memutuskan meninggalkan pekerjaan di sebuah perusahaan ritel untuk mengikuti penugasan suami ke kota lain.
Perubahan itu membuatnya harus beradaptasi dengan kehidupan baru di lingkungan asrama. Untuk mengisi waktu luang, ia mencoba berbagai keterampilan tangan, mulai dari menyulam, kristik, hingga menjahit dan memasak.
“Awalnya hanya untuk mengisi waktu. Saya mencoba banyak keterampilan, sampai akhirnya teringat lagi pada merajut yang sudah saya kenal sejak SMP,” ujar Weny saat dihubungi media ini di kediamannya, Minggu (8/3/2026).
Sejak saat itu, merajut menjadi bagian dari kesehariannya. Ia memulai dengan membuat berbagai aksesori sederhana untuk anak-anak, seperti bros, pita, bando, hingga jepit rambut.
Seiring waktu, keterampilannya terus berkembang. Jika pada awalnya belajar dari buku, Weny kemudian memanfaatkan berbagai platform digital seperti YouTube, Pinterest, dan Instagram untuk memperkaya teknik serta menemukan inspirasi desain baru.
Perkembangan tersebut membuahkan hasil. Sejumlah karya rajutnya mulai mendapat apresiasi dan bahkan meraih prestasi. Ia pernah menjadi juara dalam Lomba Cipta Payung Rajut pada Festival Payung 2017 dan 2018. Ia juga meraih penghargaan dalam Lomba Karya Wastra yang diselenggarakan Dharma Pertiwi pada 2021.
Selain mengikuti kompetisi, Weny juga memasarkan produk rajutannya melalui pameran, bazar, serta penjualan daring. Karyanya tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga pernah dikirim ke sejumlah negara, seperti Belanda, Selandia Baru, dan Jepang, terutama untuk produk dekorasi rumah bertema Natal.
Salah satu karya yang paling berkesan baginya adalah payung rajut yang dirancang khusus untuk istri Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD). Payung tersebut digunakan dalam rangkaian upacara peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia bersama karya UMKM dari anggota Persit lainnya.
Bagi Weny, merajut bukan sekadar hobi. Aktivitas ini juga menjadi sarana melatih kesabaran, konsentrasi, dan kreativitas. Lebih dari itu, keterampilan tersebut juga membuka peluang untuk membantu perekonomian keluarga.
Ia berharap keterampilan merajut semakin dikenal dan dipelajari oleh banyak orang, terutama kalangan perempuan. “Dengan benang, hakpen, dan niat, kita bisa menciptakan karya yang tak terbatas,” katanya mengakhiri keterangan.(*)
(Agus Kemplu/Sulaiman)







