Jakarta, – Tekanan Amerika Serikat terhadap Venezuela kembali menguat, menyusul narasi lama yang kembali dihidupkan: perang melawan narkoba, ancaman keamanan regional, dan stabilitas global. Sejumlah analis geopolitik menilai, konstruksi isu tersebut bukan hal baru, melainkan pola klasik yang pernah diterapkan Washington dalam operasi militer di Panama pada akhir Perang Dingin.
Direktur Jakarta Institute Agung Nugroho menilai, pendekatan Amerika Serikat terhadap Venezuela saat ini memiliki kemiripan struktural dengan strategi yang digunakan dalam invasi Panama 1989.
“Dalihnya konsisten: narkoba, keamanan, dan legitimasi moral. Tetapi di balik itu, selalu ada kepentingan strategis yang jauh lebih besar,” kata Agung, Minggu (4/1/2026) malam.
Pada Desember 1989, Amerika Serikat melancarkan operasi militer berskala besar bertajuk Operation Just Cause. Target utamanya adalah Presiden Panama saat itu, Manuel Noriega, yang dilabeli sebagai narco-dictator dan ancaman bagi keamanan kawasan. Operasi tersebut melibatkan pengerahan puluhan ribu personel militer, serangan udara, serta pendudukan strategis di Panama City.
Hasil akhirnya jelas secara militer yaitu Noriega ditangkap, dibawa ke Amerika Serikat, dan diadili di bawah hukum Washington. Namun, menurut Agung, keberhasilan taktis itu dibayar mahal oleh warga sipil Panama dan oleh prinsip kedaulatan negara.
“Kedaulatan Panama praktis dikesampingkan demi tujuan strategis Amerika Serikat,” ujarnya.
Ironisnya, Noriega sebelumnya merupakan mitra intelijen Washington dan bagian dari jaringan operasi Amerika di Amerika Latin. Perubahan status dari sekutu menjadi musuh, kata Agung, lebih ditentukan oleh pergeseran kepentingan strategis ketimbang pertimbangan moral atau hukum internasional.
Pola serupa, menurut Agung, kini terlihat dalam tekanan terhadap pemerintahan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Tuduhan keterlibatan kejahatan lintas negara, penguatan sanksi ekonomi, serta isolasi diplomatik terus dikedepankan. Narasi resmi dibangun dalam bingkai keamanan global dan stabilitas kawasan.
Namun, analisis geopolitik menunjukkan faktor strategis yang tak bisa diabaikan. Jika Panama memiliki Terusan Panama sebagai jalur vital perdagangan dan mobilitas militer global, Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, sebuah aset strategis yang memiliki implikasi langsung terhadap keamanan energi global.
“Dalam kalkulasi kekuatan besar, aset strategis selalu menjadi variabel utama,” kata Agung.
Agung menilai, pengalaman Panama memperlihatkan bagaimana isu narkoba dapat dijadikan instrumen legitimasi operasi politik dan militer. Perang melawan narkoba, katanya, sering kali berfungsi sebagai bahasa publik untuk menutupi agenda penguasaan jalur logistik, sumber daya, dan pengaruh regional.
“Kasus Panama seharusnya menjadi peringatan. Ketika diplomasi dianggap tidak lagi efektif, isu keamanan dan moralitas global kerap dijadikan pembenaran terakhir,” ujarnya.
Menurut Agung, Venezuela kini berada dalam posisi rawan secara geopolitik. Yang dipertaruhkan bukan hanya stabilitas pemerintahan Maduro, melainkan prinsip dasar sistem internasional: batas antara penegakan keamanan global dan intervensi bermotif kepentingan strategis.
“Sejarah telah mencatat polanya. Pertanyaannya, apakah dunia akan membaca tanda-tanda itu, atau kembali mengulangnya,” kata dia mengakhiri keterangan.(*)
Editor: Sulaiman







