KB PIIWati Jatim Dorong “Arus Baru” Kepemimpinan Umat di Era Disrupsi Digital

Surabaya, Jawa Timur – PW KB PIIWati Jawa Timur menegaskan pentingnya konsolidasi ideologis dan regenerasi kepemimpinan umat Islam di tengah percepatan perubahan global abad ke-21. Pesan itu mengemuka dalam Kajian Online Ramadhan Seri ke-2 bertema “Umat Islam Menghadapi Zaman Baru”, Sabtu (28/2/2026) pukul 05.30-06.30 WIB.

Kegiatan yang digelar melalui platform daring tersebut menghadirkan Ustaz Ismail Nachu, pengurus harian PW KB PII Jawa Timur, sebagai pemateri, dengan moderator Istianah Sandi dari jajaran pengurus harian PW KB PIIWati Jatim.

Dalam paparannya, Ismail Nachu menekankan bahwa dunia tengah memasuki fase perubahan radikal yang ditandai dominasi revolusi digital, demokratisasi informasi, sekaligus krisis nilai dan kepemimpinan. Ia mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18 sebagai pijakan moral agar umat Islam melakukan evaluasi diri dan menyiapkan strategi menghadapi masa depan .

“Dunia berubah begitu cepat dan radikal. Revolusi digital menjadi faktor dominan perubahan. Yang tua bisa gagap, yang muda bisa melesat tanpa arah,” tulis Ismail dalam dokumen presentasinya .

Menurutnya, abad ke-21 menghadirkan paradoks: di satu sisi membuka peluang demokratisasi dan kebangkitan kemanusiaan universal, namun di sisi lain memicu “tsunami materialisme dan sekularisme”, krisis struktural, hingga krisis keteladanan kepemimpinan .

Dalam kerangka itu, Ismail menawarkan empat pilihan sikap umat: “nabrak arus”, “kenter arus”, “ngenter arus”, atau “membikin arus baru”. Ia menekankan pentingnya membangun “arus baru” berbasis manhaj Rasulullah, penguatan akhlak, serta konsolidasi sosial, politik, ekonomi, dan sains dalam satu kesatuan gerak strategis .

Forum tersebut juga berkembang menjadi ruang konsolidasi lintas generasi di tubuh Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII). Perwakilan KB PII Banda Aceh, Agus Salim, mengusulkan agar kesenjangan antara generasi senior dan kader aktif PII dipersempit melalui pertemuan rutin dan intensif.

Usulan itu mendapat dukungan dari unsur KB PIIWati Jawa Timur. Mumun, salah satu pengurus, menyatakan kesiapan membuka forum diskusi di kediamannya yang direncanakan sekaligus menjadi ajang halal bihalal pada momentum Idul Fitri mendatang.

Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi penguatan kohesi organisasi, sekaligus membangun kesinambungan kaderisasi dalam menghadapi tantangan era disrupsi. Di tengah dinamika global yang sarat kompetisi ideologis dan teknologi, soliditas internal dinilai menjadi faktor kunci keberlanjutan gerakan.

Kajian daring Ramadhan ini menjadi bagian dari upaya konsolidasi pemikiran dan jaringan KB PII di Jawa Timur. Panitia berharap partisipasi aktif dari unsur KB PII, PII aktif, serta pengurus wilayah dan daerah untuk memperkuat agenda kebangkitan umat berbasis nilai dan kepemimpinan yang adaptif terhadap perubahan zaman.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *