Surabaya, Jawa Timur – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Forum Aktivis NU Jawa Timur menyerukan seluruh elemen Nahdliyin menjaga marwah, kemandirian, dan kedaulatan organisasi. Perbedaan pilihan dalam muktamar dinilai sebagai bagian dari dinamika organisasi yang harus tetap berada dalam koridor ukhuwah, adab, akhlak, dan kepentingan umat.
Seruan tersebut disampaikan Koordinator Forum Aktivis NU Jatim Sudarsono Rahman di Surabaya, Sabtu (22/8/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Cak Dar itu, Muktamar NU tidak semata-mata menjadi forum untuk memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Lebih dari itu, muktamar merupakan momentum strategis untuk menentukan arah perjalanan organisasi dalam menghadapi tantangan ke depan.
Karena itu, ia menilai NU membutuhkan kepemimpinan yang memiliki integritas moral, kekuatan keilmuan, kematangan organisatoris, serta keberanian menjaga kemandirian dan kedaulatan organisasi.
“Yang harus menang bukan kelompok tertentu. Yang harus menang adalah NU,” tegas pria yang pernah menjabat sebagai Ketua PW IPNU Jatim periode 1988-1992 itu.
Forum Aktivis NU Jatim juga mengingatkan agar proses menuju Muktamar ke-35 tidak berubah menjadi arena perebutan pengaruh antar kelompok. Perbedaan pilihan kepemimpinan dinilai wajar, tetapi tidak boleh mengorbankan persaudaraan warga Nahdliyin.
Cak Dar menekankan pentingnya menjaga tradisi NU di tengah perubahan zaman.
Tradisi, menurut dia, bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan amanah untuk mempertahankan nilai-nilai keulamaan dan kearifan lokal yang tumbuh bersama pesantren serta masyarakat.
Modernisasi, karena itu, dinilai harus berjalan beriringan dengan tradisi. Kemajuan organisasi tidak boleh membuat NU kehilangan identitas, karakter, dan akar sosial yang selama ini menjadi kekuatannya.
“Merawat tradisi berarti menjaga akar. Menatap masa depan berarti menyiapkan NU agar tetap relevan tanpa kehilangan jati diri,” demikian pesan yang disampaikan Forum Aktivis NU Jatim.
NU Diminta Tetap Dekat Pemerintah, Tetapi Mandiri
Selain soal kepemimpinan dan tradisi, Forum Aktivis NU Jatim, lanjut Cak Dar, menyoroti pentingnya kemandirian organisasi dalam menentukan sikap.
NU dinilai perlu membangun hubungan yang konstruktif dengan pemerintah karena kerja sama antara organisasi kemasyarakatan dan negara dibutuhkan untuk kepentingan bangsa. Namun, kedekatan tersebut tidak boleh membuat NU kehilangan ruang untuk menyampaikan kritik dan koreksi.
Kedaulatan NU, lanjutnya, berarti organisasi mampu menentukan sikap berdasarkan nilai keagamaan, tradisi keulamaan, kepentingan umat, dan kepentingan bangsa, bukan karena tekanan ataupun kepentingan sesaat.
Untuk itu, NU ke depan diharapkan semakin mandiri secara ekonomi, kuat secara kelembagaan, berdaulat dalam menentukan sikap, serta tetap memiliki wibawa di tengah masyarakat.
Forum Aktivis NU Jatim, lanjut Cak Dar, juga menyerukan agar Muktamar ke-35 mengedepankan integritas dan pengabdian dalam menentukan kepemimpinan organisasi.
Muktamar diharapkan menjadi ruang untuk memilih pemimpin yang mengutamakan pengabdian, bukan ambisi kekuasaan; integritas, bukan transaksi; serta persatuan, bukan perebutan pengaruh.
Menurut Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur itu, jabatan dalam NU harus dipandang sebagai amanah untuk melayani umat, bukan fasilitas kekuasaan.
Pemimpin NU ke depan juga diharapkan mampu bekerja sama dengan pemerintah tanpa kehilangan independensi, tetap dekat dengan umat, serta memahami posisi NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan bangsa.
“NU terlalu besar untuk diperebutkan. NU terlalu berharga untuk kehilangan marwahnya. NU adalah amanah umat dan warisan untuk generasi yang akan datang,” tegasnya lagi.
Forum tersebut berharap Muktamar NU ke-35 dapat menjadi momentum untuk memperkuat tradisi, menjaga kearifan lokal, meneguhkan peran NU bagi umat dan bangsa, sekaligus memperkokoh kemandirian serta kedaulatan organisasi.
Dengan demikian, dinamika menuju muktamar tidak berhenti pada kontestasi kepemimpinan, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar menjaga masa depan NU agar tetap relevan, berwibawa, dan berakar kuat di tengah masyarakat.(*)
Editor: Sulaiman












