
Sragen, Jawa Tengah – Debu beterbangan di sepanjang jalan desa. Suara mesin molen bersahut-sahutan memecah siang. Namun, di tengah pengecoran jalan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Kodim 0725/Sragen, suasana hangat justru terasa mengemuka.
Di sela waktu istirahat, Komandan Satuan Tugas TMMD Kodim 0725/Sragen Letkol Inf Dindin Rohidin duduk lesehan bersama anggota Satgas dan warga di pinggir lokasi pekerjaan, Rabu (13/5/2026). Tak ada jarak antara prajurit dan masyarakat. Canda ringan, tawa, serta obrolan sederhana mengalir di tengah peluh pekerjaan fisik yang sejak pagi dikerjakan bersama.
Pemandangan itu menjadi potret lain dari pelaksanaan TMMD: bukan semata pembangunan infrastruktur desa, melainkan juga ruang perjumpaan yang menjaga semangat gotong royong tetap hidup di tengah masyarakat.
Selepas berjibaku menyelesaikan pengecoran jalan, warga dan anggota Satgas tampak menikmati waktu istirahat bersama. Sebagian menyeruput kopi, sebagian lain berbincang santai sambil memandang ruas jalan yang perlahan mulai terbentuk.
Menurut Dindin, keberhasilan program TMMD tidak hanya ditentukan oleh kecepatan pembangunan fisik, tetapi juga oleh kuatnya kebersamaan antara TNI dan masyarakat di lapangan.
“Saya mengapresiasi kekompakan anggota Satgas dan warga. Kebersamaan seperti ini membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan cepat selesai. TMMD bukan hanya membangun jalan, tetapi juga membangun kedekatan dan persaudaraan,” kata Dindin.
Program TMMD di Sragen selama ini memang diarahkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur desa, terutama akses jalan yang selama ini menjadi kebutuhan warga. Namun, di balik pengerjaan fisik tersebut, tersimpan pula upaya menjaga tradisi kerja kolektif yang mulai jarang ditemukan di banyak tempat.
Warga tidak hanya hadir sebagai penerima manfaat pembangunan, melainkan terlibat langsung dalam proses pengerjaan. Mereka bekerja berdampingan dengan prajurit sejak pagi hingga sore hari.
Kebersamaan itu terlihat sederhana, tetapi menjadi simbol penting bahwa relasi TNI dan rakyat tidak dibangun melalui seremoni semata. Di tengah panas, debu, dan adukan semen, kemanunggalan itu justru tampak nyata.(*)
(Agus Kemplu/Sulaiman)











