Kenzo Yuswan, Mawapres Disabilitas UNAIR 2026, Dorong Evaluasi Nyata Pendidikan Inklusif

Edukasi3 Views

Surabaya, Jawa Timur – Prestasi membanggakan datang dari Universitas Airlangga. Direktorat Kemahasiswaan menetapkan Kenzo Yuswan, mahasiswa S-1 Ilmu Hukum, sebagai Juara I Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) 2026 kategori jalur disabilitas. Pencapaian ini tidak hanya menegaskan kapasitas akademik, tetapi juga komitmennya dalam memperjuangkan pendidikan inklusif.

Dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat universitas, Kenzo mengangkat gagasan tentang pentingnya evaluasi implementasi pendidikan inklusif, khususnya bagi penyandang disabilitas sensorik seperti tunanetra. Ia menilai, regulasi yang ada belum sepenuhnya diikuti dengan mekanisme pengawasan dan evaluasi yang terukur.

Kenzo mengusulkan penyempurnaan terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 serta Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023. Menurut dia, sosialisasi kebijakan tidak cukup hanya pada aspek pembelajaran, tetapi juga harus menyentuh program dukungan pemerintah secara menyeluruh.

“Perlu ada mekanisme evaluasi yang jelas. Pemerintah daerah dapat memberikan penghargaan kepada sekolah yang berhasil menjalankan pendidikan inklusif, sekaligus sanksi administratif bagi yang belum memenuhi standar,” ujar Kenzo, Kamis (2/4/2026).

Gagasan tersebut berangkat dari pengalaman dan rekam jejaknya di bidang hak asasi manusia. Pada 2025, ia menjadi pembicara dalam konferensi internasional yang membahas tanggung jawab negara dalam pemenuhan akses pendidikan dasar bagi penyandang disabilitas.

Ia juga pernah mengikuti program magang riset di Mahkamah Konstitusi pada tahun yang sama. Dalam kegiatan itu, Kenzo meneliti aspek aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dalam proses peradilan.

“Pengalaman di Mahkamah Konstitusi memberi saya perspektif langsung tentang bagaimana hukum bekerja, sekaligus tantangan aksesibilitas yang masih dihadapi,” katanya.

Proses seleksi Mawapres yang ia lalui mencakup penilaian capaian unggulan, pembuatan video berbahasa Inggris, serta presentasi gagasan di hadapan dewan juri. Ia juga mengikuti sesi tanya jawab dalam bahasa Inggris yang mengaitkan gagasannya dengan konsep pembangunan nasional.

Bagi Kenzo, capaian ini merupakan amanah untuk memperluas kontribusi. Ia berharap dapat terus mendorong implementasi kebijakan yang berpihak pada penyandang disabilitas, khususnya dalam sektor pendidikan.

“Aturan sudah ada. Tantangannya adalah memastikan pelaksanaannya benar-benar dirasakan oleh penyandang disabilitas,” ujarnya.(*)

(Khefti/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *