Serangan ke Komando Elit Iran Perkuat IRGC, Retaliasi Tak Terhindarkan

Surabaya, Jawa Timur – Serangan terarah terhadap struktur komando elit Iran, termasuk laporan tewasnya sejumlah figur kunci keamanan, diperkirakan akan mempercepat konsolidasi kekuasaan di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sekaligus meningkatkan intensitas retaliasi militer Iran di kawasan.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Dr. Mohammad Ayub Mirdad, M.Hub.Int., menilai bahwa pola decapitation strike terhadap elite strategis Iran tidak serta-merta melemahkan rezim dalam fase awal konflik.

“Dalam jangka pendek, eliminasi elite justru memperkuat kohesi internal. Struktur komando akan semakin terpusat pada IRGC sebagai aktor dominan, dan respons yang muncul cenderung berupa eskalasi, bukan de-eskalasi,” ujar Ayub -sapaan akrabnya-, Rabu (18/3/2026).

Perkembangan di lapangan menunjukkan IRGC telah mengambil peran lebih dominan dalam kendali militer dan politik, bahkan di tengah kerusakan signifikan akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel.

IRGC juga meningkatkan penggunaan sistem persenjataan strategis, termasuk rudal balistik jarak menengah, sebagai bagian dari respons langsung terhadap tekanan militer eksternal.

Menurut Ayub, dalam doktrin pertahanan Iran, kehilangan elite tidak mengganggu kesinambungan operasi karena struktur komando telah dirancang adaptif dan redundan.

“IRGC memiliki kapasitas regenerasi kepemimpinan yang cepat. Ini membuat efek taktis dari serangan terhadap elite menjadi terbatas dalam jangka pendek,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa dalam horizon jangka panjang, tekanan berulang terhadap pusat komando dapat mengikis fleksibilitas strategis Iran.

Konsentrasi kekuasaan yang semakin sempit pada aktor keamanan berisiko menciptakan rigiditas dalam pengambilan keputusan, sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap krisis internal.

Di sisi lain, pola retaliasi Iran menunjukkan kecenderungan ekspansi geografis konflik, termasuk serangan terhadap target-target strategis di kawasan Teluk dan instalasi militer sekutu Barat. “Retaliasi tidak hanya bersifat langsung, tetapi juga asimetris melalui proksi, serangan drone, hingga gangguan terhadap jalur energi global,” ujar Ayub.

Ia menilai, dinamika ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam fase eskalasi berlapis, di mana tekanan terhadap Iran justru memperkuat militansi rezim dalam jangka pendek, tetapi secara simultan meningkatkan risiko instabilitas sistemik di masa depan.

“Rezim terlihat semakin solid dan agresif saat ini, tetapi dalam jangka panjang menjadi lebih rapuh dan rentan terhadap guncangan besar,” katanya.

Dengan demikian, strategi penargetan elite Iran berpotensi menghasilkan efek paradoks yakni memperkuat daya tahan tempur dalam waktu dekat, namun memperbesar risiko krisis strategis berkepanjangan. (*)

(Tommy/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *