
Sidoarjo, Jawa Timur – Memperkuat barisan saudagar Muslim tidak cukup hanya dengan membangun jaringan pertemanan dan memperbanyak kegiatan organisasi. Diperlukan sistem yang kuat, pemetaan potensi anggota, serta budaya kolaborasi yang mampu menggerakkan kekuatan ekonomi secara bersama-sama.
Semangat itulah yang menjadi salah satu arah kepemimpinan baru Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Jawa Timur di bawah Ketua Dr. Ir. Mangesti Waluyo Sedjati, M.M. Dengan mengusung tagline “ISMI Bangkit dari Jawa Timur”, Mangesti mendorong transformasi organisasi melalui penguatan sistem digital, konsolidasi keanggotaan, dan perluasan jejaring bisnis hingga tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Mangesti, organisasi harus dibangun di atas sistem yang terstruktur sehingga seluruh potensi yang dimiliki anggota dapat teridentifikasi, terhubung, dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah membangun platform digital yang mampu menyatukan berbagai unsur dan potensi di tubuh ISMI Jawa Timur.
“Biar sistem yang berjalan. Kita akan membangun sistem itu, salah satunya platform digital yang dapat menyatukan semua unsur dan potensi di tubuh ISMI,” ungkap Mangesti.
Melalui platform tersebut, ISMI Jatim diharapkan memiliki basis data keanggotaan yang jelas dan terintegrasi. Data itu mencakup jumlah anggota, bidang usaha yang digeluti, potensi bisnis, hingga peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama.
Dengan pemetaan tersebut, organisasi tidak hanya mengetahui siapa saja anggotanya, tetapi juga memahami kekuatan ekonomi yang dapat dikonsolidasikan menjadi peluang usaha dan kemitraan.
Program Kerja Harus Terukur dan Berdampak
Bagi Mangesti, penguatan sistem juga harus diikuti pembenahan tata kelola organisasi. Setiap program kerja perlu disusun secara realistis, memiliki sasaran yang jelas, terukur, dan dapat dilaksanakan.
Ia menekankan bahwa organisasi tidak cukup hanya memiliki banyak agenda dan rencana besar. Hal terpenting adalah memastikan setiap program menghasilkan capaian konkret serta memberikan manfaat bagi anggota.
“Anggota harus jelas ada berapa. Program kerja harus achievable dan terukur,” tegasnya.
Pendekatan berbasis sistem tersebut diharapkan membuat ISMI Jawa Timur semakin efektif dalam mengelola organisasi sekaligus mengoptimalkan potensi para saudagar Muslim yang berasal dari berbagai sektor usaha.
Dengan demikian, keberadaan ISMI tidak berhenti sebagai wadah silaturahmi, tetapi berkembang menjadi ruang strategis untuk mempertemukan kapasitas, kebutuhan, dan peluang bisnis antaranggota.
Transformasi organisasi yang didorong Mangesti juga diarahkan pada perluasan jangkauan dan penguatan jejaring usaha.
Ia menginginkan ISMI Jawa Timur mampu mengambil peran lebih luas, tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga dalam jaringan bisnis nasional dan internasional.
“ISMI Jatim harus go nasional, go internasional,” tandasnya.
Target tersebut membutuhkan konsolidasi potensi anggota yang kuat. Basis data yang terintegrasi dan komunikasi antarpelaku usaha diharapkan menjadi modal untuk membuka peluang kemitraan lintas daerah hingga lintas negara.
Jawa Timur dengan beragam potensi sektor perdagangan, industri, jasa, kuliner, dan usaha lainnya memiliki peluang untuk menjadi salah satu kekuatan penggerak jejaring saudagar Muslim Indonesia.
Dalam konteks tersebut, ISMI diharapkan mampu menjadi jembatan yang mempertemukan para pelaku usaha, memperluas akses kolaborasi, serta mendorong tumbuhnya kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan.
Tidak hanya membenahi sistem organisasi, Mangesti juga memberikan perhatian terhadap pola interaksi dan budaya internal ISMI Jawa Timur.
Ia menginginkan organisasi yang egaliter, terbuka, dan tidak dibatasi sekat hierarki yang berlebihan. Setiap pengurus maupun anggota harus memiliki ruang yang sama untuk berkomunikasi, bertukar gagasan, dan membangun kolaborasi.
Untuk mendukung budaya tersebut, diperkenalkan sapaan khusus “CAK-NING” bagi pengurus dan anggota ISMI Jatim.
Sapaan ini diharapkan menjadi identitas kekeluargaan yang mampu menciptakan kedekatan, menghilangkan rasa sungkan, serta mempermudah interaksi antaranggotanya.
Prinsipnya, tidak ada jarak atas dan bawah dalam membangun kebersamaan. Setiap anggota memiliki kedudukan yang setara sebagai bagian dari keluarga besar ISMI dan mempunyai kesempatan untuk berkontribusi bagi kemajuan organisasi.
Budaya egaliter tersebut diharapkan memperkuat soliditas internal sekaligus menciptakan lingkungan organisasi yang lebih dinamis dan produktif.
Silaturahmi sebagai Ruang Kolaborasi Saudagar
Semangat kebersamaan dan dukungan terhadap usaha sesama anggota juga tercermin dalam kegiatan makan siang dan silaturahmi keluarga besar ISMI Jawa Timur yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026), di outlet baru Kampoeng Steak, Jalan Raya Ponti Nomor 9, Sidoarjo.
Kegiatan tersebut merupakan undangan Jonet, pemilik Kampoeng Steak, yang mengajak keluarga besar ISMI untuk menikmati pilihan menu sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan.
Pertemuan dalam suasana informal ini menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi, bertukar informasi, dan memperkuat dukungan terhadap usaha yang dikembangkan sesama anggota.
Bagi organisasi yang tengah mendorong penguatan kolaborasi, silaturahmi memiliki nilai lebih dari sekadar pertemuan sosial. Interaksi yang terbangun dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya gagasan, kemitraan, dan peluang bisnis baru.
Dengan mengedepankan digitalisasi, konsolidasi keanggotaan, program kerja terukur, dan budaya organisasi yang egaliter, ISMI Jawa Timur di bawah kepemimpinan Mangesti dihadapkan pada agenda transformasi yang menuntut konsistensi pelaksanaan.
Tagline “ISMI Bangkit dari Jawa Timur” menjadi semangat untuk membangun organisasi yang tidak hanya kuat secara kelembagaan, tetapi juga mampu mengonsolidasikan kekuatan ekonomi anggotanya.
Penting diingat bahwa kekuatan ISMI bukan semata-mata terletak pada jumlah anggota maupun struktur kepengurusan, melainkan pada kemampuan menyatukan potensi, membangun kepercayaan, dan menghadirkan kolaborasi yang menghasilkan manfaat nyata.
Dari Jawa Timur, barisan saudagar Muslim diharapkan semakin solid dan mampu mengambil peran lebih besar dalam membangun kemandirian serta daya saing ekonomi Indonesia.(*)
Pewarta: Zubaid H
Penyunting: Sulaiman







