
Jakarta, DKI Jakarta – Nama Friedrich Silaban kembali didorong masuk dalam daftar tokoh yang diusulkan memperoleh Gelar Pahlawan Nasional. Kali ini, dukungan datang dari Pemuda Jong Batak yang menilai pengabdian sang arsitek tidak hanya tercermin dari profesinya, tetapi juga dari karya-karya monumental yang menjadi bagian dari perjalanan Indonesia.
Ketua Pemuda Jong Batak, Ganda M. Sihite, mengapresiasi langkah Eriko Silaban yang menginisiasi dan mengusulkan Friedrich Silaban sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.
Menurut Ganda, pengabdian kepada negara tidak selalu berlangsung melalui medan politik atau perjuangan fisik. Keahlian dan profesi juga dapat menjadi jalan pengabdian ketika digunakan untuk menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat dan negara.
“Sejarah Indonesia lahir dari berbagai bentuk pengabdian. Ada yang berjuang melalui politik, ada yang melalui perjuangan fisik, dan ada pula yang membangun melalui ilmu pengetahuan serta profesinya. Friedrich Silaban menunjukkan bahwa arsitektur juga dapat menjadi jalan pengabdian kepada negara,” ujar Ganda.
Friedrich Silaban dikenal sebagai arsitek yang merancang Masjid Istiqlal. Badan Pengelola Masjid Istiqlal mencatat Silaban sebagai pemenang pertama sayembara desain Masjid Istiqlal pada 1955 dengan desain bersandi “Ketuhanan”.
Situs resmi Indonesia Travel juga mencatat Friedrich Silaban sebagai arsitek yang memenangkan sayembara desain Masjid Istiqlal. Masjid tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu simbol nasional Indonesia.
Sejumlah sumber juga mencatat keterlibatan Silaban dalam berbagai proyek monumental Indonesia, termasuk Monumen Nasional (Monas), Gedung Bank Indonesia, dan Gelora Bung Karno.
Bagi Ganda, nilai karya seorang tokoh tidak berhenti pada bangunan yang dihasilkan. Karya yang terus digunakan lintas generasi dapat menjadi bagian dari memori kolektif sekaligus merekam gagasan dan cita-cita bangsa pada zamannya.
“Bangunan bukan hanya persoalan ruang dan bentuk. Di dalamnya terdapat gagasan mengenai masyarakat dan bangsa yang ingin dibangun pada masanya. Ketika sebuah karya terus hadir dalam kehidupan publik, karya itu menjadi bagian dari memori kolektif dan merekam perjalanan bangsa,” katanya.
Menurut Ganda, menjaga memori kolektif menjadi bagian penting dalam memastikan sejarah pembangunan Indonesia tidak terputus dari generasi ke generasi.
Ia mengutip pesan Jas Merah yang sering dikaitkan dengan Presiden Soekarno untuk menegaskan pentingnya mengenang sejarah dan orang-orang yang berkontribusi dalam perjalanan bangsa.
“Bung Karno pernah mengingatkan melalui Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Pesan itu bukan hanya tentang mengingat peristiwa masa lalu, tetapi juga tentang menghargai orang-orang yang telah memberikan pengabdian pada zamannya,” ujar Ganda.
Pengabdian Tak Selalu Berseragam
Bagi Pemuda Jong Batak, pengusulan Friedrich Silaban juga memperluas cara pandang mengenai pengabdian kepada negara.
Seorang tokoh tidak harus berada di medan perang untuk memberikan kontribusi bagi bangsa. Pengetahuan, keahlian, profesi, dan karya yang memberikan manfaat luas juga dapat menjadi bagian dari sejarah pembangunan Indonesia.
“Negara harus menghargai anak bangsa yang telah memberikan kemampuan terbaiknya untuk Indonesia. Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional merupakan salah satu bentuk penghormatan negara terhadap jasa seseorang yang memiliki arti bagi perjalanan bangsa,” tegas Ganda.
Ia mengatakan, jasa dan karya Friedrich Silaban patut ditempatkan dalam narasi sejarah pembangunan Indonesia, khususnya mengenai kontribusi arsitektur terhadap pembentukan wajah ruang publik dan simbol kebangsaan.
Dukungan tersebut juga disebut berkaitan dengan langkah Eriko Silaban yang menginisiasi pengusulan tersebut. Ganda menilai ikhtiar untuk mengenang dan mengangkat kembali kontribusi Friedrich Silaban perlu didukung agar karya dan pengabdiannya tetap dikenal oleh generasi muda.
“Sebagai sesama putera Humbang Hasundutan, kita harus saling mendukung langkah-langkah baik untuk menghormati jasa dan karya anak bangsa. Apa yang dilakukan Eriko Silaban merupakan ikhtiar untuk memastikan pengabdian Friedrich Silaban tetap dikenal dan memperoleh penghargaan yang layak,” ujarnya.
Ganda menegaskan, kebanggaan terhadap Friedrich Silaban tidak semata-mata karena latar belakang daerahnya. Yang lebih penting, menurut dia, adalah kontribusi yang diberikan melalui ilmu, profesi, pemikiran, dan karya yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
“Friedrich Silaban adalah putera Humbang Hasundutan yang karyanya telah menjadi bagian dari perjalanan Indonesia. Kebanggaan terhadap beliau bukan hanya karena dari mana beliau berasal, tetapi karena apa yang telah diberikan melalui ilmu, profesi, pemikiran, dan karya untuk bangsa,” lanjutnya.
Ganda berharap pembahasan mengenai pengusulan Friedrich Silaban tidak berhenti pada persoalan gelar semata. Menurut dia, momentum tersebut juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kembali sejarah pembangunan Indonesia kepada generasi muda.
“Generasi muda perlu mengetahui bahwa membangun Indonesia adalah pekerjaan lintas generasi. Friedrich Silaban telah meninggalkan karya yang masih hadir dalam kehidupan kita hingga hari ini. Dari sana kita belajar bahwa sebuah pengabdian dapat melampaui usia seseorang dan tetap memberikan arti bagi bangsa,” pungkas Ganda.(*)
(Laode/Sulaiman)












