
Surabaya, Jawa Timur – Suasana di Lantai 4 Plaza Airlangga, Kampus C-MERR Universitas Airlangga, Jumat (24/4/2026) siang, tidak sekadar forum pergantian kepengurusan. Pertemuan komunitas Airlangga Business Community (ABC) justru menandai dimulainya sebuah langkah yang oleh para pesertanya disebut sebagai “operasi konsolidasi” pengusaha alumni UNAIR.
Di tengah forum, Dicky Fanani yang merupakan alumnus Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR, muncul sebagai figur yang dipercaya memimpin arah baru organisasi. Ia menggantikan pengusaha senior Yunus Enus, sekaligus membawa pendekatan berbeda yakni membangun kekuatan kolektif berbasis jaringan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Alih-alih menempatkan ABC sekadar sebagai komunitas silaturahmi, Dicky menegaskan organisasi ini harus bergerak sebagai simpul strategis yang mampu menghubungkan potensi besar alumni di berbagai sektor bisnis. “Kita ini punya resources besar. Tantangannya bukan lagi jumlah, tapi bagaimana mengorkestrasi kekuatan itu agar berdampak,” ujarnya.
Pendekatan tersebut tercermin dari rencana pembentukan chapter ABC di berbagai daerah. Skema ini tidak hanya ditujukan untuk memperluas jangkauan organisasi, tetapi juga menciptakan titik-titik pertumbuhan ekonomi berbasis alumni yang saling terhubung.
Forum juga menggarisbawahi pentingnya ritme gerak organisasi. Agenda pertemuan rutin setiap tiga bulan serta forum tahunan yang dikemas melalui kunjungan ke unit bisnis anggota dinilai menjadi cara efektif membangun kedekatan sekaligus memperkuat jejaring usaha.
“Kalau kita sering bertemu, bukan hanya relasi yang terbentuk, tapi juga kepercayaan. Dari situlah kolaborasi bisnis akan lahir,” kata Dicky.
Di sisi lain, gagasan penguatan identitas organisasi turut mengemuka. Sejumlah peserta menilai, simbol-simbol sederhana seperti atribut komunitas hingga format pertemuan yang khas dapat menjadi penanda kehadiran ABC di tengah ekosistem bisnis yang semakin kompetitif.
Format “ABC Meetup” menjadi salah satu usulan yang mendapat respons positif. Konsep ini dirancang sebagai ruang terbuka bagi alumni untuk saling bertemu, bertukar gagasan, sekaligus menarik partisipasi anggota baru secara organik.
Dari perspektif akademik, keberadaan ABC dinilai memiliki peran strategis dalam menjembatani dunia kampus dengan praktik kewirausahaan di lapangan. Komunitas ini diproyeksikan menjadi bagian dari ekosistem yang menopang lahirnya wirausaha baru dari kalangan mahasiswa dan alumni.
Tak hanya itu, penguatan publikasi juga menjadi perhatian dalam forum. Eksistensi dan kontribusi ABC dinilai perlu disampaikan secara lebih luas agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh alumni UNAIR, sekaligus memperkuat citra institusi di tingkat nasional bahkan dunia.
Pertemuan tersebut menegaskan satu hal bahwa arah baru ABC tidak berhenti pada restrukturisasi organisasi. Lebih dari itu, komunitas ini tengah bergerak menuju fase konsolidasi yang menuntut soliditas internal, kejelasan identitas, serta kemampuan membangun pengaruh di tengah peta besar komunitas bisnis nasional.
Dengan kepemimpinan baru dan strategi yang mulai dijalankan, ABC kini bersiap melangkah sebagai kekuatan kolektif alumni, bukan hanya untuk saling terhubung, tetapi juga untuk menciptakan dampak nyata.(*)
(Tommy/Sulaiman)







