Atasi Lonjakan Harga dan Krisis Pangan, Ahli Gizi Unair Ini Tawarkan Beras Analog Sebagai Solusi Alternatif

Ekonomi43 Views
ilustrasi beras analog. (foto: istimewa)

Surabaya, – Harga beras yang terus meroket membuat masyarakat mencari alternatif bahan pokok lainnya. Salah satu alternatif yang muncul seperti yang disampaikan oleh Ahli Gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Lailatul Muniroh. Ia menyodorkan salah satunya adalah beras analog, yaitu beras buatan yang dibuat dari bahan baku selain beras, seperti tepung umbi-umbian, tepung kacang-kacangan, dan bekatul (kulit ari beras yang mengandung serat).

“Proses pembuatan beras analog terdiri dari beberapa tahap, yaitu pemilihan bahan baku, penggilingan, pencampuran, perebusan atau pemasakan, pengeringan, penggilingan sekunder, penambahan zat gizi, dan penentuan bentuk dan kemasan,” ujar Lail -sapaan akrabnya- pada media ini pada Kamis (7/3/2024) lalu.

Lailatul menjelaskan bahwa pemilihan bahan baku tergantung pada preferensi lokal, ketersediaan, dan nilai gizi yang diinginkan.

“Bahan baku yang dapat digunakan untuk membuat beras analog adalah tepung umbi-umbian, seperti singkong, ubi jalar, atau talas. Tepung kacang-kacangan, seperti kedelai, kacang hijau, atau kacang merah, bekatul, vitamin, dan mineral. Bahan-bahan ini dicampur dengan perbandingan tertentu untuk menciptakan campuran homogen yang siap diolah lebih lanjut,” imbuhnya.

Lailatul melanjutkan bahwa campuran tepung kemudian direbus atau dimasak dengan cara tertentu. Misalnya, menggunakan ekstruder, yaitu alat yang dapat mengubah campuran tepung menjadi butiran-butiran seperti beras.

“Setelah itu, butiran-butiran tersebut dikeringkan dengan menggunakan oven atau metode pengeringan lainnya, agar memiliki kadar air yang rendah dan dapat disimpan lebih lama. Butiran-butiran tersebut kemudian dapat digiling sekunder untuk mendapatkan tekstur yang lebih halus, tergantung pada jenis bahan baku dan keinginan produsen,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa beberapa produsen mungkin menambahkan zat gizi, seperti vitamin dan mineral, untuk meningkatkan nilai gizi dari beras analog.

“Penambahan zat gizi ini bersifat opsional, tergantung pada tujuan dan target pasar produsen. Penambahan zat gizi dapat dilakukan sebelum atau sesudah proses perebusan atau pemasakan. Setelah itu, beras analog dapat ditentukan bentuk dan kemasannya, misalnya dalam bentuk butiran-butiran seperti beras atau dalam bentuk lainnya, kemudian dikemas,” tukasnya.

Lailatul mengatakan bahwa beras analog di satu sisi dapat dianggap sebagai solusi untuk mengatasi krisis beras. Namun, disisi lain, ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan, diantaranya penerimaan masyarakat, ketersediaan bahan baku, kesesuaian dengan kebutuhan lokal, harga dan ketersediaan, keberlanjutan produksi, regulasi dan keamanan pangan.

“Penerimaan masyarakat terhadap beras analog sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan ekonomi. Beberapa masyarakat mungkin masih lebih menyukai beras asli daripada beras analog, karena alasan tradisi, selera, atau kualitas. Ketersediaan bahan baku juga menjadi faktor penting, karena bahan baku yang digunakan untuk membuat beras analog harus mudah didapat, murah, dan memiliki kualitas yang baik. Kesesuaian dengan kebutuhan lokal juga harus dipertimbangkan, karena beras analog harus dapat memenuhi kebutuhan gizi dan energi masyarakat setempat,” katanya.

Tetapi, Lailatul Muniroh menekankan agar supaya harga dan ketersediaan beras analog juga harus kompetitif dengan beras asli, agar dapat menarik minat konsumen.

“Keberlanjutan produksi beras analog juga harus dijamin, agar dapat memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. Regulasi dan keamanan pangan juga harus diperhatikan, agar beras analog yang diproduksi dan dikonsumsi memiliki standar kesehatan yang baik dan tidak berbahaya bagi kesehatan,” tegasnya mengingatkan.

Karena itu, jika semua yang ia paparkan dipertimbangkan dan diatasi dengan baik, maka beras analog dapat menjadi solusi di tengah krisis pangan dan melonjaknya harga beras.

“Khususnya dalam situasi dimana harga beras biasa meningkat atau ketersediaannya terbatas, beras analog dapat menjadi alternatif yang layak untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Namun tidak boleh berhenti hanya di alternatif solusi, harus diselesaikan apa yang menjadi akar masalah kenaikan harga beras yang terjadi saat ini,” pungkasnya.

(pkip/mar/bti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *