Jakarta, DKI Jakarta – Istilah “aktor sejati” muncul dari sebuah percakapan selama sekitar empat jam antara HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur dengan sejumlah Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di Jakarta.
Percakapan tersebut membahas sejumlah persoalan seputar Muktamar ke-35 NU, termasuk tudingan mengenai dugaan suap dan transaksi jual-beli suara yang hingga kini masih menjadi polemik di ruang publik.
Menurut Gus Lilur, dalam pertemuan itu turut dibicarakan informasi mengenai lokasi pemberian uang muka atau down payment (DP) serta tempat yang disebut sebagai lokasi pelunasan DP.
Salah satu lokasi yang disebut dalam pernyataannya adalah Hotel Fatma di Jombang.
Namun, informasi mengenai Hotel Fatma sebagai lokasi pelunasan DP tersebut merupakan klaim Gus Lilur yang belum terverifikasi secara independen.
Dari percakapan itulah, menurut Gus Lilur, muncul sebuah pertanyaan dari salah seorang sahabatnya yang merupakan Ketua PWNU dari wilayah Sumatera mengenai sikap Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dalam polemik tersebut.
Gus Lilur kemudian menggunakan istilah “aktor sejati” untuk menggambarkan apa yang menurutnya merupakan sikap Gus Ipul dalam merespons polemik Muktamar NU.
Dua Versi Jawaban
Gus Lilur mengatakan, dalam percakapan tersebut ia memberikan dua versi jawaban terhadap pertanyaan mengenai sikap Gus Ipul. Pertama, ia menyebutnya sebagai versi agama. Kedua, sebagai versi drama. Dalam versi drama itulah Gus Lilur menyebut Gus Ipul sebagai “aktor sejati”.
Menurut Gus Lilur, seorang aktor sejati mampu memainkan peran secara meyakinkan, menghayati karakter yang diperankan, dan menjalankan lakon sesuai tuntutan cerita.
“Aktor sejati selalu memerankan peran secara mumpuni, menjiwai lakon yang diperankan, menghayati figur yang sedang dimainkan,” kata Gus Lilur dalam pernyataannya pada awak media, Rabu (7/10/2026).
Ia kemudian mengaitkan metafora tersebut dengan posisi Gus Ipul dalam polemik Muktamar.
Menurut Gus Lilur, Gus Ipul seolah memainkan peran sebagai “penjaga moral Muktamar”, yakni sosok yang menegaskan tidak adanya praktik suap dalam pelaksanaan forum tersebut.
Namun, Gus Lilur menilai terdapat kontradiksi antara peran yang menurutnya dimainkan Gus Ipul dengan tudingan mengenai dugaan transaksi suara yang beredar di publik.
Penilaian tersebut merupakan pandangan dan tudingan Gus Lilur, bukan fakta yang telah terbukti secara hukum.
Gus Ipul Bantah Tudingan
Polemik mengenai dugaan suap dan aliran dana dalam Muktamar NU sebelumnya telah berkembang menjadi saling bantah di ruang publik.
Gus Ipul, yang saat Muktamar ke-35 NU menjabat sebagai Ketua Organizing Committee (OC), membantah adanya aliran dana hasil korupsi untuk membiayai Muktamar NU. Ia juga meminta pihak yang menyampaikan tudingan mengenai risywah atau suap agar membuktikannya.
Polemik tersebut kemudian berkembang ke ranah hukum. Gus Ipul sebelumnya melayangkan somasi kepada sejumlah pihak yang dinilai menyampaikan tudingan mengenai suap dan aliran dana dalam Muktamar.
Pada 6 Oktober 2026, Gus Ipul menyatakan akan melaporkan tiga orang ke kepolisian setelah somasi yang dilayangkannya tidak mendapatkan respons. Ia meminta tudingan mengenai suap dan aliran dana tersebut dibuktikan.
Dengan demikian, pernyataan Gus Lilur mengenai Gus Ipul sebagai “aktor sejati” muncul ketika polemik tersebut telah berkembang dari perdebatan publik menjadi persoalan yang juga berpotensi masuk ke ranah hukum.
Gus Lilur tidak berhenti pada metafora “aktor sejati”. Ia juga melontarkan kritik keras terhadap Gus Ipul.
Menurut Gus Lilur, sikap yang ditunjukkan Gus Ipul dalam polemik tersebut justru merupakan bagian dari sebuah “lakon” yang sedang dimainkan.
Ia menilai Gus Ipul berusaha tampil sebagai pihak yang menjaga moral Muktamar, sementara tudingan mengenai dugaan transaksi suara terus menjadi perbincangan publik.
Gus Lilur kemudian menyampaikan seruan secara langsung kepada Gus Ipul. “Buka dulu topengmu! Pensiun! Kami sudah muak dengan akting murahanmu!” ujar Gus Lilur. Pernyataan tersebut merupakan penilaian dan kritik pribadi Gus Lilur terhadap Gus Ipul.
Di luar pernyataan tersebut, Gus Lilur juga menyebut bahwa pertemuannya dengan sejumlah Ketua PWNU berlangsung sekitar empat jam. Ia mengaku dalam pertemuan itu mereka membahas berbagai informasi yang berkaitan dengan polemik Muktamar.
Muktamar ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Setelah forum berakhir, perdebatan mengenai proses dan berbagai tudingan yang menyertainya masih berlanjut di ruang publik.
Gus Ipul sebelumnya menegaskan bahwa hasil Muktamar ke-35 NU sah dan transparan serta membantah tudingan adanya aliran dana hasil korupsi untuk membiayai pelaksanaan Muktamar.
Di tengah saling bantah tersebut, Gus Lilur kembali menyampaikan kritiknya dengan menggunakan istilah yang berasal dari dunia perfilman. “Aktor sejati” yang menurutnya, istilah itu menggambarkan apa yang menurutnya terjadi dalam polemik Muktamar. Namun bagi publik, pernyataan tersebut tetap menjadi bagian dari saling klaim dan bantahan yang hingga kini belum seluruhnya teruji melalui proses pembuktian hukum.(*)
Editor: Sulaiman













