Pada 10-11 April 2026, dunia menahan napas. Dua kapal perusak Amerika Serikat (AS) bergerak menuju Selat Hormuz. Iran memberi peringatan keras melalui mediator Pakistan, “Balikkan kapal Anda dalam 30 menit, atau kami akan menyerang. Dan negosiasi damai dengan AS akan batal.”
Hasilnya? kapal AS memutar balik dan menuju perairan bebas.
Ini bukan kemenangan militer. Ini adalah hasil dari kalkulasi risiko. Kedua pihak sadar bahwa satu langkah salah akan menjerumuskan dunia ke dalam perang besar. Saya menyebutnya garis tipis antara kompromi dan neraka. Karena itulah faktanya: di Selat itu, damai dan perang hanya terpisah oleh keputusan dalam hitungan menit.
Bukan sekadar aksi di laut yang menarik, tapi siapa yang duduk di meja perundingan. Iran tidak mengirim diplomat biasa. Mereka mengirim para perwira IRGC angkatan bersenjata ideologis Iran. Orang-orang ini punya pengalaman langsung di medan perang. Mereka tahu cara mengancam, cara menekan, dan cara menghitung risiko secara real-time.
Delegasi Iran diantaranya diisi oleh para jenderal lapangan diantaranya adalah Jenderal Ahmad Vahidi (Komandan IRGC), Mayjen Mohammad Bagher Zolghadr yang merupakan mantan wakil komandan IRGC ( Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran) dan Abbas Araghchi (Menteri Luar Negeri Iran) adalah diplomat karier, mantan anggota IRGC dan pernah bertugas di Quds Force.
Iran mengirim negosiator yang tidak perlu laporan bolak-balik ke komandan militer, karena mereka sendiri adalah komandan itu. Ini efisien sekaligus berbahaya. Efisien karena keputusan cepat. Berbahaya karena tidak ada filter sipil yang cukup.
Jika kapal perusak AS tidak memutar balik, maka rudal Iran akan diluncurkan dalam hitungan menit. Selat Hormuz hanya selebar 30-50 kilometer di titik tersempit. Kapal sebesar apa pun adalah sasaran empuk. AS pasti akan membalas: serangan ke fasilitas nuklir, pangkalan militer, dan infrastruktur minyak Iran. Tapi harga minyak global akan meroket. Dampaknya langsung dirasakan rakyat AS sendiri dan ini bumerang politik yang berat bagi pemerintah. Perundingan di Islamabad batal total. Diplomasi mati. Yang tersisa hanya perang habis-habisan.
Fakta bahwa AS memilih mundur menunjukkan satu hal yaitu risiko terlalu besar. Dalam permainan saling mengancam ini, kedua pihak mengerem di detik terakhir. Bukan karena takut, tapi karena hitungan untung-ruginya tidak seimbang.
Sebagai orang Indonesia yang pernah bertugas di PBB, saya melihat Selat Malaka memiliki kerentanan yang sama dengan Selat Hormuz. Perbedaannya: Hormuz mengangkut 20 persen minyak global. Malaka mengangkut sepertiga barang perdagangan dunia, termasuk komponen elektronik, bahan baku industri, dan hasil manufaktur China, Jepang, Korea.
Siapa pun yang bisa menutup Selat Malaka dalam 72 jam akan melumpuhkan ekonomi China, Jepang, dan Korea Selatan sekaligus. Ini bukan teori. Ini fakta strategis.
Pertanyaannya sekarang: siapa yang menjaga Malaka? Apakah TNI AL cukup kuat? Atau justru diplomasi ASEAN yang menjadi benteng tak terlihat? Saya tidak punya jawabannya sekarang. Tapi saya tahu: jika kita tidak serius menjaga Malaka, kita hanya mengandalkan keberuntungan. Dan keberuntungan tidak pernah abadi.
Mengapa Saya Bertani ?
Saya pensiun. Sekarang saya menanam pohon durian, pohon alpukat, dan pohon kelengkeng.
Ada dua alasan.
Pertama, ketahanan pangan. Negara yang tidak bisa memberi makan rakyatnya akan runtuh sebelum diserang musuh dari luar. Ini bukan slogan. Ini doktrin pertahanan non-tradisional yang sering dilupakan para pemimpin yang terlalu sibuk membeli senjata. Kedua, kegembiraan. Seorang prajurit sejati tidak hanya tahu cara menghancurkan musuh. Ia juga harus tahu cara menumbuhkan kehidupan. Apa artinya memenangkan perang di Selat Hormuz jika setelah pensiun kita tidak bisa menikmati durian dari pohon yang kita tanam sendiri?
Saya bertani bukan untuk melupakan medan perang. Saya bertani untuk mengingatkan diri sendiri bahwa tujuan akhir dari semua pertahanan adalah kehidupan yang layak dan bahagia. Bukan kehancuran.
Penutup
Selat Hormuz mengajarkan kita satu hal bahwa garis antara kompromi dan neraka sangat tipis. Di sana, Iran mengirim perwira militer sebagai negosiator, efisien tapi juga berbahaya. AS memilih mundur suatu langkah cerdas, bukan pengecut.
Dan di sini, di Indonesia, kita punya Selat Malaka yang sama rentannya. Jika kita tidak serius menjaganya, kita hanya mengandalkan keberuntungan.
Sementara itu, saya akan terus mencangkul, memupuk, dan memanen. Karena pada akhirnya, ketahanan pangan dan kegembiraan adalah bentuk pertahanan paling jujur yang bisa seorang prajurit berikan untuk bangsanya.
Salam Bahagia dan salam sehat selalu.
MAYJEN TNI (PURN) FULAD
Penasehat Militer RI untuk PBB periode 2017-2019







