
Nias, Sumatera Utara – Penantian warga Desa Sihare’o III Bawosalo’o Berua, Kecamatan Ma’u, Kabupaten Nias, untuk memiliki akses penyeberangan yang lebih aman mulai menemukan titik terang. Pembangunan Jembatan Modular di atas Sungai Yo’o yang dikerjakan Satgas Bakti TNI kini telah mencapai progres 48 persen.
Memasuki Jumat (21/8/2026), personel Satgas Bakti TNI melanjutkan pekerjaan konstruksi dengan melakukan pengecoran abutmen tepi dekat. Jembatan sepanjang 30 meter tersebut merupakan bagian dari program pembangunan yang diprakarsai Presiden RI Prabowo Subianto untuk mempercepat pemerataan infrastruktur hingga ke wilayah terpencil.
Selama ini, Sungai Yo’o menjadi salah satu tantangan bagi aktivitas warga. Tanpa jembatan yang memadai, masyarakat harus menyeberangi sungai untuk menjalankan berbagai keperluan, mulai dari pergi ke sekolah, mengangkut hasil pertanian, hingga mendapatkan layanan kesehatan.
Situasi semakin berisiko ketika hujan deras menyebabkan debit sungai meningkat. Kehadiran Jembatan Modular diharapkan menjadi solusi atas persoalan tersebut sekaligus memperlancar mobilitas masyarakat.
Pembangunan dilakukan dengan semangat gotong royong. Personel Yon TP 905/TS, Yonzipur I/DD, Koramil 02/Gido Kodim 0213/Nias, para tukang, serta masyarakat setempat bahu-membahu menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan.
Kapendam I/BB Kolonel Inf Sandy, S.I.P., mengatakan pembangunan Jembatan Modular Sungai Yo’o merupakan wujud nyata komitmen TNI melalui program Bakti TNI dalam membantu mengatasi kesulitan masyarakat.
“Pembangunan jembatan ini tidak hanya membuka akses transportasi, tetapi juga memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Sandy.
Ia berharap pembangunan jembatan dapat segera rampung sehingga masyarakat memperoleh akses yang lebih aman, lancar, dan layak.
“Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu mempercepat mobilitas warga sekaligus membuka peluang bagi peningkatan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Dalam proses pembangunan, sejumlah material digunakan, antara lain pasir, batu, papan, besi, dan kawat pengikat. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari pekerjaan tersebut, sekaligus memperkuat semangat gotong royong antara prajurit TNI dan warga.
Setelah selesai, jembatan sepanjang 30 meter itu diharapkan tidak sekadar menghubungkan dua sisi Sungai Yo’o. Lebih dari itu, jembatan tersebut menjadi jalur penting bagi warga menuju sekolah, fasilitas kesehatan, dan pusat kegiatan ekonomi.
Bagi masyarakat Desa Sihare’o III Bawosalo’o Berua, jembatan ini bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah jalan menuju mobilitas yang lebih aman, aktivitas ekonomi yang lebih lancar, dan harapan baru bagi kehidupan warga.(*)
(Johannes/Sulaiman)












